Satu setengah bulan di Asrama,
Sulit Dijalani Namun Manis Dikenang
Oleh:
Adi Syah Putra
Ini adalah awal mula ceritaku ketika
aku diterima sebagai peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor.
Ketika aku ditakdirkan untuk menjalani hari-hariku di asrama. Bermula dari 23
Juli aku masuk asrama, tepatnya pada tengah malam pukul 00.00 WIB, kami peserta
beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor harus sudah berada di depan asrama
untuk registrasi dan simbolisasi masuk asrama. Semangat bercampur kantuk dan
dingin pun menyelimuti kami pada malam itu. Namun ada hal yang membuat kami
tetap terjaga pada saat itu, yaitu enam orang sosok alumni yang telah menunggu
dan menyambut kami di depan gerbang asrama. Setelah bertukar cerita dan
pengalaman akhirnya kamipun masuk ke asrama sekitar pukul 04.00 WIB dan bersiap
untuk membersihkan diri menyambut shalat shubuh. Hari-hariku pun di asrama
dipenuhi dengan pertempuran melawan rasa malas diriku sendiri. Bangun di pukul
03.00 WIB setiap harinya adalah salah satu hal yang paling sulit untuk
dilewati. Namun dengan semangat kebersamaan di asrama dapat mengalahkan rasa
malasku sendiri. Setiap pagi, setiap kali kami terbangun di pukul 03.00 WIB,
kami selalu mengantri di pojok-pojok toilet untuk berebut masuk dan mandi pagi
sebelum kami memulai kegiatan-kegiatan pembinaan kami. Qiyamul lail, membaca
Asbabbul Nuzul, Sbubuh berjama’ah dan Al-matsurat adalah pembinaan rutin yang
selalu kami lewati di waktu pagi disetiap harinya.. Apel terus menerus juga
merupakan agenda wajib yang kami ikuti diawal-awal pembinaan.
Tepat ditanggal 24 Juli 2016, awal
cerita seru kami diasramapun berlanjut. Tiga puluh pemuda terbaik yang
terkumpul di Pandwa V Bogor melakukan Family Meeting perdana mereka untuk
menentukan siapa yang akan memegang Nahkoda Pandawa. Family meeting pun
dilakukan pagi hari setelah shubuh di lantai dasar Masjid Al-Hurriyah (katanya
sih biar berkah hehehee...). Setelah forum dibuka, kamipun lantas membentuk
kabinet pertama kami diasrama dan diputuskanlah bahwa Nahkoda Pandawa yang
pertama adalah Ainu Zaim, seorang wakil BEM PPKU yang sangat ramah dan humoris.
Selain itu, terbentuk pula tujuh kementrian yang membawahi tujuh bidang yang
sangat-sangat strategis di asrama.
Hari-haripun berlalu, kami
melewatinya dengan mempersiapkan kebutuhan National Leadership Camp (NLC)
terutama persiapan untuk haflah, jargon dan yel-yel sebagai penyemangat kami nantinya.
Kami tiga puluh pemuda Pandawa bertekat akan menjadi yang terbaik dan terseru
di NLC kali ini. Hal itu kami buktikan dengan persiapan yang baik dan matang,
terutama dalam mempersiapkan yel-yel dan jargon kami sebagai penyemangat kami
nantinya. Haripun terus berlalu hingga tanggal 2 Agustus pun tiba, yaitu
saat-saat kami harus pergi ke kantor RK pusat untuk berkumpul bersama dengan
teman-teman dengan RK dari berbagai Regional lainnya untuk mempersiapkan diri
di NLC. Berangkat kurang lebih pada pukul 10.00 WIB dan tiba di stasiun
Universitas Indonesia pada pukul 12.30, kami pun langsung bertolak ke RK pusat.
Sesampainya di RK pusat kami langsung bertemu dan bercengkrama dengan
teman-teman kami dari berbagai regional lainnya (katanya sih Saudara Sampai
Syurga wkwk, Aamiin). Malampun tiba, dimana saatnya kami dikumpulkan di sebuah
aula dan masing-masing saling menunjukkan gengsi regional (Pandawa sih siap
dengan takeline #TakutGantengnya wkwkwk). Sampai akhirnya kamipun beristirahat
untuk memperisapkan keberangkatan acara NLC esok harinya.
Hari yang dinantikanpun tiba,
tepatnya 3 Agustus 2016 disaat kami semua harus terbangun dan memulai
petualangan kami pertama di NLC. Saat itu pukul tiga pagi semua terasa seperti
di tempat pengungsian. Dimana orang-orang terbangun dan mempersiapkan barang
bawaannya masing-masing. Kamipun dibagi dalam lima belas kelompok dan
ditempatkan ke sepuluh bis yang sudah dipersiapkan. Kami berangkat dari RK
pusat sekitar pukul 05.30 WIB dan tiba di lokasi diadakannya NLC pada pukul
08.00 WIB. Setelah itu kamipun langsung ke penginapan kami masing-masing yang
sudah dipersiapkan. Hari pertama dimulai mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul
23.00 WIB, begitu setiap harinya hingga acara NLC selesai pada tanggal 7
Agustus 2016. Diacara inilah saya sangat merasa beruntung karena mendapatkan
pengalaman dari pembicara-pembicara yang sudah sangat terkenal di masing-masing
bidangnya. Di acara ini pula saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman seru
bersama teman-teman. Di acara ini pulalah saya banayak mendapatkan teman-teman
yang sangat luar biasa. Mereka semua adalah orang-orang yang mempunyai visi
jauh kedepan, pandangan yang kritis dan pemikiran yang ikhlas untuk mengabdi
terhadap bangsa ini. Di acara ini pulalah semangat kebersamaan kami semua,
peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan terbentuk sedemikian kuatnya. Di acara ini
pulalah, kami tiga puluh pemuda Pandawa membuktikan kekompakan dan semangat
kami. Kami tiga puluh pemuda Pandawa selalu melewati hari-hari di NLC dengan
semnagat dan diiringi yel-yel maupun jargon terbaik kami. Ketercengangan dan
keantusiasan peserta lain selalu ada ketika kami, tiga puluh pemuda Pandawa
menunjukkan semangatnya. Di judge sebagai suporter adalah sebagian bukti bahwa
kami mempunyai kebersamaan yang kuat didalam rangkaian acara ini. Pernah pula
kami tiga puluh pemuda Pandawa bernyanyi-nyanyi ria di malam terakhir kami di
NLC sampai pukul setngah dua pagi, sampai para panitia kerepotan untuk
mengingatkan dan berupaya kami langsung beristirahat hehehere. Tapi walaupun
sudah disuruh beristirahat, kami tetap meneruskan aktivitas kami membawakan
lagu-lagu semangat, bahkan ketika di perjalanan pulang ke penginapan wkwkwk. Di
acara ini pula saya di pertemukan dengan sosok-sosk inspiratif negeri ini,
Sandiaga Uno, Sudirman Said, Pak Yoyok, Anies Baswedan, Ahmad zaky adalah
beberapa diantanya. Tentu saja itu merupakan sesuatu hal yang menarik dan
sangat jarang didapat oleh pemuda-pemuda di negeri ini. Hal-hal aneh dan
konyolpun banyak kami dapatkan di acara ini. Ceplosan presma Pandawa juga acap
kali ikut meramaikan susasan di NLC (maklumlah, presmanya emang suka rada-rada
wkwkwk), tap hal tersebut membuat kami lebih bersemangat untuk mengikuti setiap rangkaian acara.
Pernah pula kami disuguhkan dengan satu game yang sangat mengunggah semangat
nasionalisme kami, “Findig Indonesia” namanya, game simulasi yang membuat kami
harus memikirkan bangsa ini lebih keras dari kebanyakan pemuda di bangsa ini
untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Itulah sekilas
keseruan-keseruan yang saya dapat di NLC, mungkin sebagian sudah lupa karena
saya menulis tulisan ini sudah cuku lama sejak acara tersebut di adakan wkwkwk.
Setibanya di asrama, pasca kami
mengikuti acara NLC, entah apa yang membuat saya gelisah, namun saya merasa
kerdil diasrama. Berkumpul dengan pemuda-pemuda yang sangat bertalenta teutama
di bidang organisasi, membuat saya memutuskan suatu tindakan yang menurut saya
tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Ya... itulah saya yang mengubah jalan dan arah haluan saya. Saya yang
dulu sangat menyukai oragnisasi dan kepanitiaan, hanya sekedar untuk memberikan
apa yang menurut saya dapat saya berikan kepada ligkungan sekitar, berubah
menjadi seorang yang memikirkan bagaimana caranya menjadi seorang wirausaha
yang sukses. Satu kejadian yang mengubah jalan dan arah hidup saya saat ini
bermula dari obrolan dengan beberapa alumni Pandawa angkatan tujuh, bang Rizal
Arief dan bang fadel namanya. Saat itu ketika kami tengah beristirahat pasca
menjalankan pelatihan dan outbound kepada teman-teman FMIPA 52, spontan saja
bang Rizal berkata kepada kami, “apa ya yang bisa kita lakukan untuk memutarkan
uang pelatihan ini?? Apa kita belikan Handy Talky saja buat disewa-sewa. Toh
kita kan pemuda-pemuda yang banyak urusan organisasi di kampus..” begitu
celetuknya. Langsung saja bang Fadel menanggapi “Kenapa tidak kita belikan
proyektor saja Zal?? Kan lumayan juga tuh buat disewa-sewa??”. Spontan saja
saya yang ketika itu baru saja teracuni dan berubah pikiran saya untuk menjadi
seorang wirausaha termenung diam untuk mengambil peluang ini. Bagi saya ini
adalah peluang yang harus saya mulai secepat mungkin. Saya terus saja
memikirkan hal ini hingga waktu malam. Kemudian saya memutuskan untuk
menggunakan uang beasiswa yang baru saja saya dapat saat itu untuk membeli
Handy Talky. Spontan saya langsung membuka situs buka lapak (kenapa saya buka
situs ini karena saya baru tau kalau alumninya anak RK wkwkwk juga sya berniat
membantu UMKM yang ada disana, ceritanya sih semnagat nasionalismenya sudah
mulai kebentuk wkwkwk. Soalnya, saya tidak pernah menggunakan situs ini ketika
saya belanja online sebelum-sebelumnya hehehe). Saya langsung survei harga
disana, dan ketemulah harga handy talky yang pas menurut saya, tidak murah dan
tidak mahal tapi cukup memuaskan konsumen menurut saya. Saya langsung melakukan
transaksi sebesar Rp 2.93.00,- untuk pembelian enam buah HT beserta ongkos
kirimnya dan saya juga mendapatkan rasa kepuasan tersendiri karena telah berani
mengambil keputusan ini. Karena sebenarnya saya juga tidak tau kapan modal saya
ini bisa kembali hahahaa... tapi setidaknya saya sudah mulai menentukan langkah
dan arah tujuan saya. Tapi sih sampai sekarang, selama kurang lebih satu bulan
saya punya HT, tercatat sudah terjadi sembilan kali transaksi penyewaan HT saya
dengan nominal transaksi sebesar Rp 535.000,- hehehee. Tidak hanya itu, begitu
saya juga mengetahui nominal saldo di atm saya masih mencukupi untuk membeli produk
minuman ringan yaitu Teh Kotak, saya juga langsung menginvestasikan uang saya
ini disalah satu kantin di Fakultas Peternakan IPB, “Best Corner” namanya dan
melengkapi jumlah investasi saya sekitar Rp 10.880.00,- disana. Best Corner
sendiri adalah salah satu kantin yang menyediakan kesempatan bagi mahasiswa
untuk berinvestasi disana, dan hasilnya cukup besar untuk kalangan mahasiswa
seperti saya ini wkwkwk.
Tidak hanya sampai disitu cerita
saya ketika satu setengah bulan ini di asrama. Ketika keuangan saya sangat
tipis karena digunakan untuk membeli HT dan menambah investasi, terbesit
sesuatu yang sangat mengusik pikiran saya. Setiap kali di kampus, saya sangat
sering melihat mahasiswa maupun mahasiswi kampus IPB mengkonsumsi minuman teh
kemasan “Your Tea”. Yaitu teh yang berasal dari produk pkm-k dan terus
dikembangkan saat ini. Karena Your Tea ini duah menjadi bisnis franchise atau
waralaba, saya langsung teringat akan satu pesan yang disampaikan oleh Robert
T. Kyosaki dalam bukunya yang sangat terkenal, yaitu Cashflow Quadrant. Spontan
saya mengorek-ngorek bisnis waralaba ini dan sampailah saya dengan keadaan
datang ketempat pemilik bisnis ini untuk menyanyakan beberapa hal dan berniat
menjadi mitra bisnisnya. Saat itu, sekitar tanggal 23 Agustus 2016, saya
mendatangi tempat pemilik bisnis ini dan bercerita panjang lebar tentang
bagaimana saya bisa menjadi mitra kerja beliau, hal pertama yang sangat menjadi
pikiran saat itu adalah obsesi saya untuk dapat membuka bisnis waralaba ini
secepatnya. Namun satu hal yang sangat menjadi kendala saya adalah, bahwa
keadaan keuangan saya sudah tidak memungkinkan untuk dapat membeli brand Your
Tea ini karena harga untuk bisa menjadi mitra usaha bisnis ini sendiri adalah
RP 5.000.000,-. Saat itu keadaan keuangan saya sendiri tidak lebih dari Rp
1.000.000,- yang membuat saya dipastikan tidak bisa bersegera membeli franchise
ini. Sayapun pulang dengan sedikit perasaan kecewa dikarenakan saya gagal bisa
segera membuka bisnis ini.
Waktupun berlalu dengan perasaan
yang sangat saya dapat menjadi mitra kerja Your Tea. Beberapa hal nekat juga
saya tempuh untuk bisa mendapatkan dana yang cukup secepatnya tapi dengan tidak
meminta uang orang tua lagi. Sayapu
pergi kebeberapa teman yang menurut saya memiliki keuangan yang cukup
banyak dan sayapun menceritakan keadaan saya dengan harapan dapat meminjam uang
denga mereka. Akhirnya seminggu setelah kejadian tersebut sayaa mendapat
bantuan Rp 1.000.000,- dari teman saya yang mau ikut tergabung dalam binis ini,
dan Rp 3.000.000- nya lagi saya dapat dengan berhutang dengan teman-teman
terdekat saya. Hari yang saya nantikanpun tiba, dimana saatnya saya bisa
membeli bisnis waralaba ini. Tepat di tanggal 31 Agustus saya bercerita dan
berpamitan dengan Eksekutif Regional saya kang Supri dan kang Fauzi namanya.
Mereka adalah supervisor dan manajer asrama Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor. Malam itupun saya langsung
mebuat janji dan bertemu dengan pemilik bisnis waralaba ini dan melakukan
transaksi yang sudah lama saya nantikan. Hal yang sangat sadari saat itu adalah
bahwa saya bisa membeli waralaba ini tapi saya tidak bisa membeli bahan baku
untuk berjualan seketika itu karena ternyata saya masih memerlukan sekitar Rp
800.000,- untuk bisa membeli bahan baku untuk berjualan, sedangkan saat itu
saya sadari saya hanya tinggal menyisakan kurang lebih Rp 300.000,- untuk
keperluan saya sehari-hari. Tapi tanpa memerdulikan hal tersebut, saya
memutuskan untuk segera menjadi mitra kerja Your Tea agar saya bisa berusaha
lebih keras untuk bisa membuka usaha ini secepatnya. Malam itupun saya berjabat
tangan dan resmi menjadi mitra kerja Your Tea dengan kesepakatan satu minggu
untuk penyelesaian baqlok tempat berjualan Your Tea itu sendiri.
Hari-haripun berlalu dan saya sangat
menantikan saat-saat dimana tempat berjualan Your Tea saya selessai dikerjakan.
Namun karena kendala teknis, baglok sayapun telat diselesaikan, karena saya
baru bisa menerima baqlok saya di tanggal 9 September 2016. Hari berganti hari
namun saya belum bisa memulai jualan dikarenakan tidak ada uang yang bisa saya
gunakan untuk membeli bahan baku. Hari-hari juga saya lewati dengan makans
seadanya dan masih mengarapkan kebaikan dari Allah zdat yang maha baik. Tanggal
10 September 2016 saya memutuskan untuk pergi ke Jonggol, mengasingkan diri
dengan membantu Regional saya dalam pengambilan hewan qurban yang sudah
dipesan. Berangkat dari Bogor seusai sholat shubuh selesai, sayapun tiba di
stasiun Universitas Indonesia pukul 06.30 WIB. Diam merenungi keadaan saya
sembari menunggu datangnya bis kuning untuk bisa pergi ke kantor RK pusat yang
letaknya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sayapun tiba di kator
RK pusat pada pukul 07.30 WIB. Tak lama berselang, teman-teman saya dari
Rgional II Bandung pun tiba. Akhirnya kami berangkat menuju Jonggol sekitar
pukul 09.00 WIB dengan menggunakan mobil yang sudah disiapkan kak Fahmi selaku
ketua qurban tahun ini dari Rumah Kepemimpinan. Pukul 11.00 WIB kamipun tiba di
Jonggol dan langsung mengecek keadaan hewan qurban yang akan kami bawa. Hari
itu di Jonggol kami melewati dengan mengurusi administrasi dan SOP tentang
persiapan pembawaan hewan qurban. Menggiring domba-domba ternyata bukanlah
sesuatu yang mudah terlebih lagi keadaan saya yang sedang berpuasa Tarwiyah
pada hari itu. Siang-sore-malam, kami lewati dengan memotret hewan qurban
dikandang dan memisahkannya berdasarkan regional kami masing-masing. Tak hanya
disitu, pukul 23.00 WIB pun saya dengan teman-teman pergi ke suatu tempat untuk
mengambil hewan qurban, karena hewan qurban yang ada di Jonggol Farm pada saat
itu tidak mencukupi. Malam itupun kami baru bisa beristirahat pukul 01.00 WIB.
Pukul 03.30 WIB sayapun sudah terbangun dan langsung menyantap makanan yang
tadi malam sengaja saya simpan untuk kebutuhan puasa Arafah. Setelah itu
kamipun langsung menaik-naikkan hewan qurban kami ke angkutan regional kami
masing-masing. Satu persatu hewan qurban kami naikkan dengan susah payah dan
barulah sekitar pukul 08.00 WIB selesai. Disinilah awal mula pengharapan saya
kepada zdat pencipta alam semesta dijawab. Tanpa mengharapkan uang lebih,
tiba-tiba saat itu saya dan teman saya disuguhi dan diberikan uang yang cukup
banyak oleh kang Fahmi. Setelah dihitung-hitung ternyata masing-masing dari
kami mendapatkan uang sebesar Rp 500.000,-. Sayapun langsung mengucapkan syukur
kepada Allah S.W.T atas kebaikannya karena saya sangat membutuhkan uang
tersebut untuk membeli bahan baku Your Tea. Saya pulang dengan perasaan gembira
dan mengimpikan bsa memulai usaha waralab saya secepatnya. Hari itupun tanggal
11 September 2016 saya tiba di asrama Rumah Kepemimpinan sekitar pukul 10.30
WIB dan langsung berpamitan dengan teman-teman untuk beristirahat. Hari itupun
kami isi dengan teman-teman Pandawa untuk mempersiapkan hari Idul Adha keesokan
harinya. Malam itu kami pemuda Pandawa bertugas untuk menjaga hewan ternak.
Saya sendiri mengisi malam itu dengan bermain gaplek bersama beberapa teman
Pandawa, termasuk pula mang Ukat dan kang Fauzi disitu. Mang Ukat sendiri
adalah orang yang paling banyak membantu kami di asrama sedangkan kang Fauzi
sendiri adalah manajer regional kami hehehee. Malam itu kami mengisi
malam-malam dengan penuh candaan dan tawaan. Pasalnya setiap kami yang kalah
selalu dicoret dengan tepun yang telah disirami air. Tentu saja srtiap dari
kami dapat mengetahui siapa yang paling banyak kalah dalam permainan ini
heheee. Saya sendiri memecahkan rekor pada malam itu dengan tampil sebagai
pemenang terbanyak dan pemenang enam kali berturut-turut tanpa kalah kwkwkw
(maklumlah sudah biasa hidup dikampung dan melihat orang-orang bermain gaplek,
jadi saya dengan mudah mengalahkan mereka wkwkw). Malam itupun saya
beristirahat sekitar pukul 01.30 WIB dan terbangun sekitar pukul 04.00 WIB.
Saya dan teman-teman langsung bersiap-siap untuk sholat ied dilapangan GWW.
Satu hal yang menjadi penyesalan saya pada hari itu adalah karena saya
mengantuk saat sholat ied wkwkwk...
Setelah shalat Ied, kamipun langsung
pulang dan bersiap untuk menyembelih dan membagikan daging hewan qurban.
Alhamdulillah di tahun ini regional Bogor mampu memotong 2 sapi dan 22 domba
yang akan disebar ke warga desa dan beberapa komunitas. Hari Idul Adha kali
inpun menjadi seauatu yang menarik bagi kami. Karena disinilah kami diajarkan
secara langsung bekerjasama dan saling percaya terhadap pembagian tugas
masing-masing.
Sedikit melanjutkan cerita saya
tentang bisnis waralaba Your Tea yang sangat ingin saya buka, berhubung saya
mendapatkan rezeki yang sangat tak terduga disaat membantu penyaluran hewan
qurban sebesar Rp 300.000,- dan menggenapkan uang saya sekitar Rp 800.000,-
yang artinya saya bisa dengan segera memberi bahan baku untuk kebutuhan
penjualan Your Tea saya, tanpa pikir panjangpun saya langsung membeli kebutuhan
bahan baku dengan segera. Dengan berbekalkan uang seadanya sayapun langsung
membeli bahan baku untuk pembuatan Your Tea ini. Setelah membeli bahan baku,
ternyata kebutuhan berjualan tidak hanya sampai disitu saja, masih ada beberapa
item yang harus saya lengkapi seperti air minum isi ulang, pipet, es batu dan
sebagainya yang membuat saya harus berpikir lagi harus mencari uang kemana
karena saya sendiri sudah kehabisan uang bahakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Akhirnya saya memutuskan untuk mencari pinjaman kepada teman-teman terdekat
saya. Setelah menemukan pinjaman, sayapun langsung membelikan item-item
tersebut dan akhirnya hal yang sangat saya impikanpun terjadi, tepat di hari
jumat tanggal 16 Agustus 2016 binis waralaba teh saya pun sudah mulai
berjualan. Hari pertama saya dimulai dengan penjualan yang sangat baik bahkan
melebihi target saya perharinya yang hanya saya targwtkan 30 cup perhari. Namun
rezeki Allah memang tidak pernah datang terlambat. Dihari pertama saya
berjualan, teh Your Tea saya mampu terjual sebanyak 51 cup. Hari kedua
meningkat satu cup menjadi 52 cup (Alhamdulillah walaupun satu cup setidaknya
meningkat wkwkwk). Hari ketiga jauh melampaui target saya, Your Tea yang
terjual di hari ketiga sebanyak 73 cup, hari keempat 70 cup, dan hari kelima
adalah puncak penjualan saya saat ini, yaiutu sebanyak 101 cupJ
Hari-hari saya yang penuh
keprihatinanpun dapat saya lewati dengan senyuman. Pernah disuatu ketika saya
hanya mengantongi uang sebanyak Rp 19.000, Rp 7500 dan terus tidak pernah
diatas Rp 30.00 selama beberapa hari. Bahkan satu kejadian yang sangat membuat
saya hampir menangis adalah dimana pada saat itu saya harus ke RK pusat untuk mendatangi
agenda pembinaan yaitu Kajian Islam Kontemporer (KIK) yang diisi oleh ust.
Musholli. Saat itu keadaan keuangan saya sangat memprihatinkan. Ketika
sesampainya di RK pusat saya hanya menyisakan Rp 1.500,- dan bingung bagaimana
harus makan saat itu. Bahkan untuk sekedar pulang ke Bogor saya tidak punya
uang lagi. Namun disitu pulalah saya tau teman yang benar-benar mau membantu
saya bahkan ketika keadaan saya yang sangat memprihatinkan dan tidak pernah tau
apakah bisa membayar hutang-hutang saya itu. Namun, semangat saya untuk bisa
segera bangkit selalu mampu mengalahkan kecemasan saya dan Alhamdulillah sampai
sekarang Allah selalu mencukupkan kebutuhan pangan hamba dan mulai bisa
menyicil hutang hamba sedikit demi sedikit.
Mungkin cerita satu cerita yang saya
rasa paling tepat untuk menutup kisah saya selama satu setengah bulan di
asrama. Tepat pada 20 September 2016, saya mendapat predikat youth leader of
the month. Namun hal yang tidak akan pernah saya lupa adalah masa-masa sulit
saya di asrama, dimana saya harus terlunta-lunta bahkan hanya untuk sekedar
memenuhu kebutuhan hamba sehari-hari.
Terimakasih sebesar-besarnya saya
ucapkan kepada teman-teman saya yang turut membantu dikala saya susah. Saya
tentu tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian. Terimakasih juga saya
ucapkan kepada kang Supri dan kang Fauzi yang telah sabar membina saya dan
percaya kepada saya. Akhirul kalam. Wassalamu’alaikum warhamtullah wabarakatuh...
Komentar
Posting Komentar