Satu setengah bulan di Asrama,
Sulit Dijalani Namun Manis Dikenang
Oleh: Adi Syah Putra

      Ini adalah awal mula ceritaku ketika aku diterima sebagai peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor. Ketika aku ditakdirkan untuk menjalani hari-hariku di asrama. Bermula dari 23 Juli aku masuk asrama, tepatnya pada tengah malam pukul 00.00 WIB, kami peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor harus sudah berada di depan asrama untuk registrasi dan simbolisasi masuk asrama. Semangat bercampur kantuk dan dingin pun menyelimuti kami pada malam itu. Namun ada hal yang membuat kami tetap terjaga pada saat itu, yaitu enam orang sosok alumni yang telah menunggu dan menyambut kami di depan gerbang asrama. Setelah bertukar cerita dan pengalaman akhirnya kamipun masuk ke asrama sekitar pukul 04.00 WIB dan bersiap untuk membersihkan diri menyambut shalat shubuh. Hari-hariku pun di asrama dipenuhi dengan pertempuran melawan rasa malas diriku sendiri. Bangun di pukul 03.00 WIB setiap harinya adalah salah satu hal yang paling sulit untuk dilewati. Namun dengan semangat kebersamaan di asrama dapat mengalahkan rasa malasku sendiri. Setiap pagi, setiap kali kami terbangun di pukul 03.00 WIB, kami selalu mengantri di pojok-pojok toilet untuk berebut masuk dan mandi pagi sebelum kami memulai kegiatan-kegiatan pembinaan kami. Qiyamul lail, membaca Asbabbul Nuzul, Sbubuh berjama’ah dan Al-matsurat adalah pembinaan rutin yang selalu kami lewati di waktu pagi disetiap harinya.. Apel terus menerus juga merupakan agenda wajib yang kami ikuti diawal-awal pembinaan.
            Tepat ditanggal 24 Juli 2016, awal cerita seru kami diasramapun berlanjut. Tiga puluh pemuda terbaik yang terkumpul di Pandwa V Bogor melakukan Family Meeting perdana mereka untuk menentukan siapa yang akan memegang Nahkoda Pandawa. Family meeting pun dilakukan pagi hari setelah shubuh di lantai dasar Masjid Al-Hurriyah (katanya sih biar berkah hehehee...). Setelah forum dibuka, kamipun lantas membentuk kabinet pertama kami diasrama dan diputuskanlah bahwa Nahkoda Pandawa yang pertama adalah Ainu Zaim, seorang wakil BEM PPKU yang sangat ramah dan humoris. Selain itu, terbentuk pula tujuh kementrian yang membawahi tujuh bidang yang sangat-sangat strategis di asrama.
        Hari-haripun berlalu, kami melewatinya dengan mempersiapkan kebutuhan National Leadership Camp (NLC) terutama persiapan untuk haflah, jargon dan yel-yel sebagai penyemangat kami nantinya. Kami tiga puluh pemuda Pandawa bertekat akan menjadi yang terbaik dan terseru di NLC kali ini. Hal itu kami buktikan dengan persiapan yang baik dan matang, terutama dalam mempersiapkan yel-yel dan jargon kami sebagai penyemangat kami nantinya. Haripun terus berlalu hingga tanggal 2 Agustus pun tiba, yaitu saat-saat kami harus pergi ke kantor RK pusat untuk berkumpul bersama dengan teman-teman dengan RK dari berbagai Regional lainnya untuk mempersiapkan diri di NLC. Berangkat kurang lebih pada pukul 10.00 WIB dan tiba di stasiun Universitas Indonesia pada pukul 12.30, kami pun langsung bertolak ke RK pusat. Sesampainya di RK pusat kami langsung bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman kami dari berbagai regional lainnya (katanya sih Saudara Sampai Syurga wkwk, Aamiin). Malampun tiba, dimana saatnya kami dikumpulkan di sebuah aula dan masing-masing saling menunjukkan gengsi regional (Pandawa sih siap dengan takeline #TakutGantengnya wkwkwk). Sampai akhirnya kamipun beristirahat untuk memperisapkan keberangkatan acara NLC esok harinya.
          Hari yang dinantikanpun tiba, tepatnya 3 Agustus 2016 disaat kami semua harus terbangun dan memulai petualangan kami pertama di NLC. Saat itu pukul tiga pagi semua terasa seperti di tempat pengungsian. Dimana orang-orang terbangun dan mempersiapkan barang bawaannya masing-masing. Kamipun dibagi dalam lima belas kelompok dan ditempatkan ke sepuluh bis yang sudah dipersiapkan. Kami berangkat dari RK pusat sekitar pukul 05.30 WIB dan tiba di lokasi diadakannya NLC pada pukul 08.00 WIB. Setelah itu kamipun langsung ke penginapan kami masing-masing yang sudah dipersiapkan. Hari pertama dimulai mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, begitu setiap harinya hingga acara NLC selesai pada tanggal 7 Agustus 2016. Diacara inilah saya sangat merasa beruntung karena mendapatkan pengalaman dari pembicara-pembicara yang sudah sangat terkenal di masing-masing bidangnya. Di acara ini pula saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman seru bersama teman-teman. Di acara ini pulalah saya banayak mendapatkan teman-teman yang sangat luar biasa. Mereka semua adalah orang-orang yang mempunyai visi jauh kedepan, pandangan yang kritis dan pemikiran yang ikhlas untuk mengabdi terhadap bangsa ini. Di acara ini pulalah semangat kebersamaan kami semua, peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan terbentuk sedemikian kuatnya. Di acara ini pulalah, kami tiga puluh pemuda Pandawa membuktikan kekompakan dan semangat kami. Kami tiga puluh pemuda Pandawa selalu melewati hari-hari di NLC dengan semnagat dan diiringi yel-yel maupun jargon terbaik kami. Ketercengangan dan keantusiasan peserta lain selalu ada ketika kami, tiga puluh pemuda Pandawa menunjukkan semangatnya. Di judge sebagai suporter adalah sebagian bukti bahwa kami mempunyai kebersamaan yang kuat didalam rangkaian acara ini. Pernah pula kami tiga puluh pemuda Pandawa bernyanyi-nyanyi ria di malam terakhir kami di NLC sampai pukul setngah dua pagi, sampai para panitia kerepotan untuk mengingatkan dan berupaya kami langsung beristirahat hehehere. Tapi walaupun sudah disuruh beristirahat, kami tetap meneruskan aktivitas kami membawakan lagu-lagu semangat, bahkan ketika di perjalanan pulang ke penginapan wkwkwk. Di acara ini pula saya di pertemukan dengan sosok-sosk inspiratif negeri ini, Sandiaga Uno, Sudirman Said, Pak Yoyok, Anies Baswedan, Ahmad zaky adalah beberapa diantanya. Tentu saja itu merupakan sesuatu hal yang menarik dan sangat jarang didapat oleh pemuda-pemuda di negeri ini. Hal-hal aneh dan konyolpun banyak kami dapatkan di acara ini. Ceplosan presma Pandawa juga acap kali ikut meramaikan susasan di NLC (maklumlah, presmanya emang suka rada-rada wkwkwk), tap hal tersebut membuat kami lebih bersemangat  untuk mengikuti setiap rangkaian acara. Pernah pula kami disuguhkan dengan satu game yang sangat mengunggah semangat nasionalisme kami, “Findig Indonesia” namanya, game simulasi yang membuat kami harus memikirkan bangsa ini lebih keras dari kebanyakan pemuda di bangsa ini untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Itulah sekilas keseruan-keseruan yang saya dapat di NLC, mungkin sebagian sudah lupa karena saya menulis tulisan ini sudah cuku lama sejak acara tersebut di adakan wkwkwk.
          Setibanya di asrama, pasca kami mengikuti acara NLC, entah apa yang membuat saya gelisah, namun saya merasa kerdil diasrama. Berkumpul dengan pemuda-pemuda yang sangat bertalenta teutama di bidang organisasi, membuat saya memutuskan suatu tindakan yang menurut saya tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.  Ya... itulah saya yang mengubah jalan dan arah haluan saya. Saya yang dulu sangat menyukai oragnisasi dan kepanitiaan, hanya sekedar untuk memberikan apa yang menurut saya dapat saya berikan kepada ligkungan sekitar, berubah menjadi seorang yang memikirkan bagaimana caranya menjadi seorang wirausaha yang sukses. Satu kejadian yang mengubah jalan dan arah hidup saya saat ini bermula dari obrolan dengan beberapa alumni Pandawa angkatan tujuh, bang Rizal Arief dan bang fadel namanya. Saat itu ketika kami tengah beristirahat pasca menjalankan pelatihan dan outbound kepada teman-teman FMIPA 52, spontan saja bang Rizal berkata kepada kami, “apa ya yang bisa kita lakukan untuk memutarkan uang pelatihan ini?? Apa kita belikan Handy Talky saja buat disewa-sewa. Toh kita kan pemuda-pemuda yang banyak urusan organisasi di kampus..” begitu celetuknya. Langsung saja bang Fadel menanggapi “Kenapa tidak kita belikan proyektor saja Zal?? Kan lumayan juga tuh buat disewa-sewa??”. Spontan saja saya yang ketika itu baru saja teracuni dan berubah pikiran saya untuk menjadi seorang wirausaha termenung diam untuk mengambil peluang ini. Bagi saya ini adalah peluang yang harus saya mulai secepat mungkin. Saya terus saja memikirkan hal ini hingga waktu malam. Kemudian saya memutuskan untuk menggunakan uang beasiswa yang baru saja saya dapat saat itu untuk membeli Handy Talky. Spontan saya langsung membuka situs buka lapak (kenapa saya buka situs ini karena saya baru tau kalau alumninya anak RK wkwkwk juga sya berniat membantu UMKM yang ada disana, ceritanya sih semnagat nasionalismenya sudah mulai kebentuk wkwkwk. Soalnya, saya tidak pernah menggunakan situs ini ketika saya belanja online sebelum-sebelumnya hehehe). Saya langsung survei harga disana, dan ketemulah harga handy talky yang pas menurut saya, tidak murah dan tidak mahal tapi cukup memuaskan konsumen menurut saya. Saya langsung melakukan transaksi sebesar Rp 2.93.00,- untuk pembelian enam buah HT beserta ongkos kirimnya dan saya juga mendapatkan rasa kepuasan tersendiri karena telah berani mengambil keputusan ini. Karena sebenarnya saya juga tidak tau kapan modal saya ini bisa kembali hahahaa... tapi setidaknya saya sudah mulai menentukan langkah dan arah tujuan saya. Tapi sih sampai sekarang, selama kurang lebih satu bulan saya punya HT, tercatat sudah terjadi sembilan kali transaksi penyewaan HT saya dengan nominal transaksi sebesar Rp 535.000,- hehehee. Tidak hanya itu, begitu saya juga mengetahui nominal saldo di atm saya masih mencukupi untuk membeli produk minuman ringan yaitu Teh Kotak, saya juga langsung menginvestasikan uang saya ini disalah satu kantin di Fakultas Peternakan IPB, “Best Corner” namanya dan melengkapi jumlah investasi saya sekitar Rp 10.880.00,- disana. Best Corner sendiri adalah salah satu kantin yang menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinvestasi disana, dan hasilnya cukup besar untuk kalangan mahasiswa seperti saya ini wkwkwk.
          Tidak hanya sampai disitu cerita saya ketika satu setengah bulan ini di asrama. Ketika keuangan saya sangat tipis karena digunakan untuk membeli HT dan menambah investasi, terbesit sesuatu yang sangat mengusik pikiran saya. Setiap kali di kampus, saya sangat sering melihat mahasiswa maupun mahasiswi kampus IPB mengkonsumsi minuman teh kemasan “Your Tea”. Yaitu teh yang berasal dari produk pkm-k dan terus dikembangkan saat ini. Karena Your Tea ini duah menjadi bisnis franchise atau waralaba, saya langsung teringat akan satu pesan yang disampaikan oleh Robert T. Kyosaki dalam bukunya yang sangat terkenal, yaitu Cashflow Quadrant. Spontan saya mengorek-ngorek bisnis waralaba ini dan sampailah saya dengan keadaan datang ketempat pemilik bisnis ini untuk menyanyakan beberapa hal dan berniat menjadi mitra bisnisnya. Saat itu, sekitar tanggal 23 Agustus 2016, saya mendatangi tempat pemilik bisnis ini dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana saya bisa menjadi mitra kerja beliau, hal pertama yang sangat menjadi pikiran saat itu adalah obsesi saya untuk dapat membuka bisnis waralaba ini secepatnya. Namun satu hal yang sangat menjadi kendala saya adalah, bahwa keadaan keuangan saya sudah tidak memungkinkan untuk dapat membeli brand Your Tea ini karena harga untuk bisa menjadi mitra usaha bisnis ini sendiri adalah RP 5.000.000,-. Saat itu keadaan keuangan saya sendiri tidak lebih dari Rp 1.000.000,- yang membuat saya dipastikan tidak bisa bersegera membeli franchise ini. Sayapun pulang dengan sedikit perasaan kecewa dikarenakan saya gagal bisa segera membuka bisnis ini.
         Waktupun berlalu dengan perasaan yang sangat saya dapat menjadi mitra kerja Your Tea. Beberapa hal nekat juga saya tempuh untuk bisa mendapatkan dana yang cukup secepatnya tapi dengan tidak meminta uang orang tua lagi. Sayapu  pergi kebeberapa teman yang menurut saya memiliki keuangan yang cukup banyak dan sayapun menceritakan keadaan saya dengan harapan dapat meminjam uang denga mereka. Akhirnya seminggu setelah kejadian tersebut sayaa mendapat bantuan Rp 1.000.000,- dari teman saya yang mau ikut tergabung dalam binis ini, dan Rp 3.000.000- nya lagi saya dapat dengan berhutang dengan teman-teman terdekat saya. Hari yang saya nantikanpun tiba, dimana saatnya saya bisa membeli bisnis waralaba ini. Tepat di tanggal 31 Agustus saya bercerita dan berpamitan dengan Eksekutif Regional saya kang Supri dan kang Fauzi namanya. Mereka adalah supervisor dan manajer asrama Rumah Kepemimpinan  Regional V Bogor. Malam itupun saya langsung mebuat janji dan bertemu dengan pemilik bisnis waralaba ini dan melakukan transaksi yang sudah lama saya nantikan. Hal yang sangat sadari saat itu adalah bahwa saya bisa membeli waralaba ini tapi saya tidak bisa membeli bahan baku untuk berjualan seketika itu karena ternyata saya masih memerlukan sekitar Rp 800.000,- untuk bisa membeli bahan baku untuk berjualan, sedangkan saat itu saya sadari saya hanya tinggal menyisakan kurang lebih Rp 300.000,- untuk keperluan saya sehari-hari. Tapi tanpa memerdulikan hal tersebut, saya memutuskan untuk segera menjadi mitra kerja Your Tea agar saya bisa berusaha lebih keras untuk bisa membuka usaha ini secepatnya. Malam itupun saya berjabat tangan dan resmi menjadi mitra kerja Your Tea dengan kesepakatan satu minggu untuk penyelesaian baqlok tempat berjualan Your Tea itu sendiri.
             Hari-haripun berlalu dan saya sangat menantikan saat-saat dimana tempat berjualan Your Tea saya selessai dikerjakan. Namun karena kendala teknis, baglok sayapun telat diselesaikan, karena saya baru bisa menerima baqlok saya di tanggal 9 September 2016. Hari berganti hari namun saya belum bisa memulai jualan dikarenakan tidak ada uang yang bisa saya gunakan untuk membeli bahan baku. Hari-hari juga saya lewati dengan makans seadanya dan masih mengarapkan kebaikan dari Allah zdat yang maha baik. Tanggal 10 September 2016 saya memutuskan untuk pergi ke Jonggol, mengasingkan diri dengan membantu Regional saya dalam pengambilan hewan qurban yang sudah dipesan. Berangkat dari Bogor seusai sholat shubuh selesai, sayapun tiba di stasiun Universitas Indonesia pukul 06.30 WIB. Diam merenungi keadaan saya sembari menunggu datangnya bis kuning untuk bisa pergi ke kantor RK pusat yang letaknya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sayapun tiba di kator RK pusat pada pukul 07.30 WIB. Tak lama berselang, teman-teman saya dari Rgional II Bandung pun tiba. Akhirnya kami berangkat menuju Jonggol sekitar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan mobil yang sudah disiapkan kak Fahmi selaku ketua qurban tahun ini dari Rumah Kepemimpinan. Pukul 11.00 WIB kamipun tiba di Jonggol dan langsung mengecek keadaan hewan qurban yang akan kami bawa. Hari itu di Jonggol kami melewati dengan mengurusi administrasi dan SOP tentang persiapan pembawaan hewan qurban. Menggiring domba-domba ternyata bukanlah sesuatu yang mudah terlebih lagi keadaan saya yang sedang berpuasa Tarwiyah pada hari itu. Siang-sore-malam, kami lewati dengan memotret hewan qurban dikandang dan memisahkannya berdasarkan regional kami masing-masing. Tak hanya disitu, pukul 23.00 WIB pun saya dengan teman-teman pergi ke suatu tempat untuk mengambil hewan qurban, karena hewan qurban yang ada di Jonggol Farm pada saat itu tidak mencukupi. Malam itupun kami baru bisa beristirahat pukul 01.00 WIB. Pukul 03.30 WIB sayapun sudah terbangun dan langsung menyantap makanan yang tadi malam sengaja saya simpan untuk kebutuhan puasa Arafah. Setelah itu kamipun langsung menaik-naikkan hewan qurban kami ke angkutan regional kami masing-masing. Satu persatu hewan qurban kami naikkan dengan susah payah dan barulah sekitar pukul 08.00 WIB selesai. Disinilah awal mula pengharapan saya kepada zdat pencipta alam semesta dijawab. Tanpa mengharapkan uang lebih, tiba-tiba saat itu saya dan teman saya disuguhi dan diberikan uang yang cukup banyak oleh kang Fahmi. Setelah dihitung-hitung ternyata masing-masing dari kami mendapatkan uang sebesar Rp 500.000,-. Sayapun langsung mengucapkan syukur kepada Allah S.W.T atas kebaikannya karena saya sangat membutuhkan uang tersebut untuk membeli bahan baku Your Tea. Saya pulang dengan perasaan gembira dan mengimpikan bsa memulai usaha waralab saya secepatnya. Hari itupun tanggal 11 September 2016 saya tiba di asrama Rumah Kepemimpinan sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung berpamitan dengan teman-teman untuk beristirahat. Hari itupun kami isi dengan teman-teman Pandawa untuk mempersiapkan hari Idul Adha keesokan harinya. Malam itu kami pemuda Pandawa bertugas untuk menjaga hewan ternak. Saya sendiri mengisi malam itu dengan bermain gaplek bersama beberapa teman Pandawa, termasuk pula mang Ukat dan kang Fauzi disitu. Mang Ukat sendiri adalah orang yang paling banyak membantu kami di asrama sedangkan kang Fauzi sendiri adalah manajer regional kami hehehee. Malam itu kami mengisi malam-malam dengan penuh candaan dan tawaan. Pasalnya setiap kami yang kalah selalu dicoret dengan tepun yang telah disirami air. Tentu saja srtiap dari kami dapat mengetahui siapa yang paling banyak kalah dalam permainan ini heheee. Saya sendiri memecahkan rekor pada malam itu dengan tampil sebagai pemenang terbanyak dan pemenang enam kali berturut-turut tanpa kalah kwkwkw (maklumlah sudah biasa hidup dikampung dan melihat orang-orang bermain gaplek, jadi saya dengan mudah mengalahkan mereka wkwkw). Malam itupun saya beristirahat sekitar pukul 01.30 WIB dan terbangun sekitar pukul 04.00 WIB. Saya dan teman-teman langsung bersiap-siap untuk sholat ied dilapangan GWW. Satu hal yang menjadi penyesalan saya pada hari itu adalah karena saya mengantuk saat sholat ied wkwkwk...
           Setelah shalat Ied, kamipun langsung pulang dan bersiap untuk menyembelih dan membagikan daging hewan qurban. Alhamdulillah di tahun ini regional Bogor mampu memotong 2 sapi dan 22 domba yang akan disebar ke warga desa dan beberapa komunitas. Hari Idul Adha kali inpun menjadi seauatu yang menarik bagi kami. Karena disinilah kami diajarkan secara langsung bekerjasama dan saling percaya terhadap pembagian tugas masing-masing.
           Sedikit melanjutkan cerita saya tentang bisnis waralaba Your Tea yang sangat ingin saya buka, berhubung saya mendapatkan rezeki yang sangat tak terduga disaat membantu penyaluran hewan qurban sebesar Rp 300.000,- dan menggenapkan uang saya sekitar Rp 800.000,- yang artinya saya bisa dengan segera memberi bahan baku untuk kebutuhan penjualan Your Tea saya, tanpa pikir panjangpun saya langsung membeli kebutuhan bahan baku dengan segera. Dengan berbekalkan uang seadanya sayapun langsung membeli bahan baku untuk pembuatan Your Tea ini. Setelah membeli bahan baku, ternyata kebutuhan berjualan tidak hanya sampai disitu saja, masih ada beberapa item yang harus saya lengkapi seperti air minum isi ulang, pipet, es batu dan sebagainya yang membuat saya harus berpikir lagi harus mencari uang kemana karena saya sendiri sudah kehabisan uang bahakan untuk kebutuhan sehari-hari. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari pinjaman kepada teman-teman terdekat saya. Setelah menemukan pinjaman, sayapun langsung membelikan item-item tersebut dan akhirnya hal yang sangat saya impikanpun terjadi, tepat di hari jumat tanggal 16 Agustus 2016 binis waralaba teh saya pun sudah mulai berjualan. Hari pertama saya dimulai dengan penjualan yang sangat baik bahkan melebihi target saya perharinya yang hanya saya targwtkan 30 cup perhari. Namun rezeki Allah memang tidak pernah datang terlambat. Dihari pertama saya berjualan, teh Your Tea saya mampu terjual sebanyak 51 cup. Hari kedua meningkat satu cup menjadi 52 cup (Alhamdulillah walaupun satu cup setidaknya meningkat wkwkwk). Hari ketiga jauh melampaui target saya, Your Tea yang terjual di hari ketiga sebanyak 73 cup, hari keempat 70 cup, dan hari kelima adalah puncak penjualan saya saat ini, yaiutu sebanyak 101 cupJ
          Hari-hari saya yang penuh keprihatinanpun dapat saya lewati dengan senyuman. Pernah disuatu ketika saya hanya mengantongi uang sebanyak Rp 19.000, Rp 7500 dan terus tidak pernah diatas Rp 30.00 selama beberapa hari. Bahkan satu kejadian yang sangat membuat saya hampir menangis adalah dimana pada saat itu saya harus ke RK pusat untuk mendatangi agenda pembinaan yaitu Kajian Islam Kontemporer (KIK) yang diisi oleh ust. Musholli. Saat itu keadaan keuangan saya sangat memprihatinkan. Ketika sesampainya di RK pusat saya hanya menyisakan Rp 1.500,- dan bingung bagaimana harus makan saat itu. Bahkan untuk sekedar pulang ke Bogor saya tidak punya uang lagi. Namun disitu pulalah saya tau teman yang benar-benar mau membantu saya bahkan ketika keadaan saya yang sangat memprihatinkan dan tidak pernah tau apakah bisa membayar hutang-hutang saya itu. Namun, semangat saya untuk bisa segera bangkit selalu mampu mengalahkan kecemasan saya dan Alhamdulillah sampai sekarang Allah selalu mencukupkan kebutuhan pangan hamba dan mulai bisa menyicil hutang hamba sedikit demi sedikit.
             Mungkin cerita satu cerita yang saya rasa paling tepat untuk menutup kisah saya selama satu setengah bulan di asrama. Tepat pada 20 September 2016, saya mendapat predikat youth leader of the month. Namun hal yang tidak akan pernah saya lupa adalah masa-masa sulit saya di asrama, dimana saya harus terlunta-lunta bahkan hanya untuk sekedar memenuhu kebutuhan hamba sehari-hari.
            Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada teman-teman saya yang turut membantu dikala saya susah. Saya tentu tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian. Terimakasih juga saya ucapkan kepada kang Supri dan kang Fauzi yang telah sabar membina saya dan percaya kepada saya. Akhirul kalam. Wassalamu’alaikum warhamtullah wabarakatuh...


            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Plan 1 tahun (Februari 2017-Januari 2018)

Deskripsi singat

Resolusi untuk 2017