Rihlah Pandawa 5.8 (@GunungPapandayan)

Rihlah Pandawa 5.8
            Senin, 30 Januari 2017 adalah salah satu hari yang membahagiakanku setelah menyelesaikan semester ganjil di asrama Rumah Kepemimpinan. Hal ini didasari oleh kepulangan teman-teman peserta Rumah Kepemimpinan yang telah menyelesaikan liburan mereka dan menjadikan asrama normal kembali, karena selama liburan asrama yang biasanya dipenuhi oleh anak-anak jenaka dan super sibuk sangatlah ramai dan menjadi kesengangan sendiri bisa bertemu dan bersapa bersama mereka di asrama.
            Keesokan harinya tepat pada Selasa, 31 Januari 2017 sistem diasrama pun berjalan normal seperti sedia kala. Hari-hari kami dipenuhi oleh agenda pembinaan. Seperti biasa, pagi ini kami mengisi waktu-waktu kami dengan sholat shubuh berjamaah dan dilanjutkan dengan waktu berkah shubuh yang selalu membuat kami bisa berkumpul  bersama. Setelah membaca Al-matsurat, kami mengisi waktu kami dengan bercerita tentang kegiatan yang kami lakukan selama liburan sembari menikmati oleh-oleh yang dibawakan oleh teman-teman.
            Hari-hari pun berjalan normal sampai tiba di suatu ketika kami para peserta mewacanakan untuk mengadakan rihlah (suatu kegiatan yang dilakukan untuk menikmati alam dan bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan). Hari-hari kamipun diisi dengan musyawarah untuk menentukan akan kemanakah kami mengadakan rihlah ini. Akhirnya diputuskanlah bahwa kami akan muncak di Gunung Papandayan dengan ketua pelaksana adalah Mar’ie Al Fauzan, orang yang sangat lucu dan sedikit tidak jelas (itu pandangan saya hahaa... tapi setidaknya dia berhasil membawa kami ke Gunung Papandayan dan memimpin teman-teman pandawa untuk melakukan sesuatu yang menurutnya benar). Hari keberangkatanpun ditentukan yaitu Selasa, 7 Februari 2017 sampai hari Kamis, 9 Februari 2017. Hampir setiap hari Mar’ie Al Fauzan selalu mengajak kami untuk musyawarah. Kata-kata yang paling khas dari Mar’ie adalah “Kumpul AK dulu ya, bentar aja. Sepuluh menit doang kok”. Hal itu setiap hari dilakukan dan seringnya itu dilakukan pada jam-jam yang sudah larut sehingga kebiasaan ini hampir membuat para peserta Rumah Kepemimpinan bosan dan sering menolak jika di serukan untuk berkumpul (termasuk diri saya pribadi wkwk).
            Hari-hari yang ditunggupun tiba. Tepat pada 7 Februari 2017, kami para Pandawa (sebutan untuk peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor) melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Banyak dari kami melakukan persiapn dari pagi hari hingga menjelang sore, namun tidak sedikit juga yang melakukannya dengan sedikit santai dan dengan waktu yang singkat mendekati keberangkatan (termasuk saya pribadi hahahaha). Waktu pun terus berlalu hingga sekitar pukul 20.00 WIB truk yang telah dipesan untuk keberangkatan pun tiba. Ekspetasi yang selama ini dibayangkan bahwa kami menyewa truk yang besar sehingga akan lebih leluasa dan nyaman untuk ditumpangi berubah menjadi sesuatu yang sedikit menyiksa. Hal ini dikarenakan truk yang kami sewa memiliki pegas yang tidak berfungsi pada bagian belakang sehingga adanya sedikit lubang saja membuat truk ini menjadi tidak nyaman untuk ditumpang bahkan di jalan tol pun kami merasa melewati jalanan rusak yang berlubang. Tapi hal tersebut sepertinya tidak mengganggu sedikitppun para Pandawa yang telah kelelahan melewati hari-harinya. Mereka tetap puas tertidur dalam posisi duduk di kursi masing-masing, ada juga yang tertidur pulas di lantai, namun ada juga yang tertidur dikursi dengan posisi yang sangat tidak nyaman (sekali lagi itu termasuk saya J). Akhirnya sekitar pukul 03.00 WIB pada Rabu, 8 Februari kami tiba di Masjid Agung Garut. Sesampainya disana kami langsung beristirahat, ada juga yang menghabiskan malamnya dengan mendirikan sholat tahajjud dan berzdikir hingga waktu shubuh pun datang dan kami melaksanakan sholat shubuh berjamaah di Masjid Agung Garut. Setelah selesai kamipun bersiap untuk mendaki Gunung Papandayan. Persiapan dimulai dengan pelengkapan alat-alat yang dibutuhkan untuk mendaki gunung dan mendirikan tenda di atas Gunung Papandayan, kebanyakan dari kami menyewa alat-alat dari Jelajah Garut yang tidak terletak jauh dari Masjid Agung Garut. Setelah peralatan lengkap kamipun melanjutkan kegiatan dengan sarapan bersama di pelataran Masjid Agung Garut.
            Perjalanan pun dimulai, kami berangkat dari Masjid Agung Garut sekitar pukul 07.00 WIB. Waktu pun berlalu sampai tiba disuatu tempat truk yang kami tumpangi pun berhenti. Ternyata truk yang kami tumpangi dihadang oleh masyarakat sekitar yang mengais rezeki lewat jasa sewa pick up untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Papandayan. Awalnya kami merasa keberatan untuk menyewa jasa pick up ini, karena disamping truk yang kami tumpangi mampu mencapai titik tujuan, kami pun tidak memiliki anggaran dana lebih untuk membayar jasa ini. Namun para warga memaksa dengan embel-embel bagi-bagi rezeki dan tidak akan diijinkan lewat jika tidak menerima jasa mereka. Pada akhirnya kami pun mengiyakan kemauan mereka karena sudah terlanjur sampai di Garut. Sangat disayangkan rihlah ini tidak berjalan hanya karena kami tidak mempunyai anggaran untuk membayar jasa mereka. Kami pun menaiki 3 unit pick up yang telah kami sewa hingga mencapai gerbang pos pertama. Di gerbang pos pertama kami menegosiasi para penjaga untuk menetapkan harga tiket masuk sembari melakukan foto-foto untuk mendokumentasikan kegiatan kami. Perjalan pun dilanjutkan sampai pada akhirnya kami sampai di tempat para pendaki memulai perjalanan mereka. Sesampainya disana kami melakukan segala persiapan dengan sebaik-baiknya, mulai dari mengeluarkan perlengkapan yang dibutuhkan saat mendaki sampai dengan menggunakan jas hujan untuk berjaga-jaga karena Garut sedang mengalami musim hujan yang panjang.
            Pendakian pun dimulai, kami mulai mendaki Gunung Papandayan sekitar pukul 10.30 WIB. Satu persatu anak tangga pun mulai kami tapaki. Diperjalanan kami harus menjaga barisan dan semangat kami. Teriakan-teriakan pun kami gemakan untuk menjaga suhu tubuh kami yang mulai menurun karena terguyur hujan. Sesekali kami juga beristirahat untuk menjaga teman-teman kami yang mulai kelelahan. Perjalanan ini sungguh tidak mudah. Selain kami membawa perlengkapan yang cukup banyak untuk menginap, sebagian besar dari kami juga baru pertama kali melakukan pendakian. Ditambah lagi dengan suhu pegunungan yang sangat dingin karena hujan yang terus menerus mengguyur. Sesekali kami mendokumentasikan kegiatan kami bila menemukan tempat yang bagus untuk didokumentasikan. Detik demi detik terus berganti dan para Pandawa tetap terus melanjutkan perjalanan yang telah mereka mulai. Di tengah perjalanan, pendakian pandwa pun semakin sulit karena kami harus melewati kawah belerang yang cukup menyengat namun kami tetap pada pendirian kami untuk tetap maju bersama. Satu persatu jalan pendakian pun dilewati dan akhirnya sampailah kami ke Tegal Alun, nama dari tempat kami untuk mendirikan kemah.
            Sesampainya di Tegal Alun para Pandawa pun langsung mendiirikan kemah-kemah mereka. Menurut kami ini bukanlah hal yang mudah, sekali lagi ini dikarenakan sebagian besar ini adalah pengalaman pertama kami dan ditambah lagi kami melakukannya dengan suhu yang sangat dingin karena kami terus diguyur oleh hujan. Oleh karena itu kami harus mendirikan kemah ini secepat yang kami bisa agar kami bisa langsung beristirahat didalamnya. Waktu pun terus berlalu dan pada akhirnya kami bisa menyelesaikan kemah-kemah kami sekitar pukul 13.30 WIB.  Selesai mendirikan tenda, kami pun langsung beristirahat di kemah. Saya sendiri waktu itu berada dalam satu kemah dengan saudara saya Danu Mandra Pratama, Septian Ardi Rimbawanto, Adi Nugroho, dan Yoga Rivaldi. Tidak lama berselang dari kokohnya kemah yang kami dirikan, kami pun langsung menghidupkan kompor yang kami bawa untuk digunakan memasak air dan makanan agar dapat mengisi energi dan juga menghangatkan tubuh kami. Kami pun mengeluarkan semua bahan makanan dan membaginya dalam tiga bagian yang sama banyak agar kami menyisakan bahan makanan untuk malam dan keesokan harinya. Setalah itu kami langsung beristirahat untuk menghangatkan diri. Namun tiba-tiba kami dibangunkan oleh air yang menyusup masuk ke tenda bahkan ke dalam pakaian kami. Hal ini dikarenakan saluran air yang luput dari pantaun kami sehingga air menjadi menggenang disekitar kemah. Situasi didalam kemah kami pun langsung berubah, keadaan yang tadinya sedikit santai berubah menjadi seperti gotong royong. Kami harus berusaha keras untuk mengeluarkan dan mengeringkan air dari dalam kemah. Hal  itu tentunya bukan hal yang mudah karena keadaan yang sedang hujan. Namun kami terus berusaha sehingga semua air yang menggangu berhasil kami keluarkan dari tenda. Kemudian kami memperbaiki saluran irigasi yang ada disekitar kemah kami.
            Waktu pun berlalu hingga tiba saatnya kami harus mendirikan shalat ashar dengan di barengi sholat dzuhur. Satu persatu dari kami secara bergantian mulai berwudhu dengan keadaan air yang sangat dingin di puncak Gunung Papandayan. Setalah itu kami pun langsung menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Setalah itu kami hanya bisa beristirahat di kemah karena cuaca yang tidak mendukung aktivitas kami di luar kemah. Tanpa terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB dan dari sinilah cerita yang tak akan terlupakan di Gunung Papandayan itu dimulai. Waktu itu para Pandawa sedang bersantai di masing-masing tendanya sampai salah seorang dari kami berteriak “Babii.. babiiii.. ada babiiii...” sontak hal itu langsung membuat kami semua terkejut sekaligus khawatir. Waktu itu saya bersama teman-teman di kemah langsung berpikiran bahwa kita harus segera memasak bahan makanan sebelum semuanya bertambah buruk. Kamipun dengan sigap menyiapkan bahan makanan dan memasaknya. Namun hal tersebut ternyata menambah buruk suasana. Ternyata babi-babi hutan ini mengincar bahan makanan. Alhasil selama kami memasak dan menyantap makanan, banyak babi berkeliaran disekitar tenda kami. Hal ini tentu saja membuat kekhawatiran bagi kami. Kami pun sebisa mungkin menghabiskan makanan dengan cepat. Sesekali kami menakuti babi yang menghampiri tenda kami teriakan-teriakan. Selama kami menyantap makanan yang telah kami masak, lebih dari tiga kali saya mendengar endusan babi dan teriakan-teriakan teman-teman yang berada diluar kemah kami yang mengisyaratkan babi tersebut berada disekitar tenda.
            Selesai menyantap bahan makanan kami pun sepakat untuk langsung membersihkan barang-barang kotor yang digunakan sewaktu proses memasak hingga mengonsumsi makanan. Waktu itu saya bersama dengan Yoga Rivaldi dan Adi Nugroho pergi kesumber air untuk membersihkan piring-piring kotor sekaligus mengambil wudhu untuk keperluan shalat Maghrib dan Isya yang kami jamak pada saat itu. Namun sial, ketika saya selesai mengambil wudhu saya dikejutkan oleh babi hutan yang sangat santai lewat didekat saya dan mengarah ke tenda kami. Saya pun langsung berteriak karena tidak pernah meilhat babi sebesar itu sebelumnya, ditambah lagi suasana malam dan gerimis menyelimuti puncak Gunung Papandayan Garut pada saat itu. Saya pun langsung meminta senter kepada Zaim, salah seorang dari Pandawa yang pada saat itu juga berada diddekat saya. Mereka pun ketakutan, namun saya memberanikan diri utuk menyenteri babi tersebut dan mencoba mengusirnya dari area tenda kami. Perlahan namun pasti, babi hutan tersebut menjauh dan menghilang ditengah kegelapan Gunung Papandayan. Setelah itu saya dan Yoga juga Mas Adi (panggilan bagi Yoga Rivaldi dan Adi Nugroho) langsung kembali ke tenda. Sesampainya di tenda, saya diminta oleh sahabat saya Danu ntuk menemaninya mengambil wudhu dan saya mengiyakan kemauannya. Saya dan Danu pun langsung pergi untuk menemaninya mengambil wudhu. Sesampainya ditempat pengambilan air wudhu, Danu langsung mengambil wudhu secepat mungkin. Namun ketika Danu sedang berwudhu, saya dikejutkan oleh endusan babi yang sangat kuat. Saya pun langsung menyenteri suatu daerah didekat pengambilan wudhu. Benar saja ternyata saya melihat babi yang sangat-sangat besar sedang menggerogoti kantung plastik yang berisi sampah bahan makanan. Saya pun langsung memanggil Danu yang sejak sore sangat penasran oleh sosok babi yang sealu dikatakan sangat besar oleh orang-orang yang telah melihatnya, termasuk saya. Saya pun emyoroti babi tersebut dan kemudian Danu pun menoleh. Spontan sat itu dia terkejut sekaligus sangat takut melihat sosok babi hutan yang sangat besar tersebut. Namun Danu tidak berhenti-berhenti memandangi babi tersebut karena takub akan bentuknya yang sangat besar. Pada saat yang sama saya juga melihat beberapa perlengkapan masak dan sampah dari tenda kami tertinggal oleh Yoga dan Mas Adi. Sontak saya menjadi khawtir bila babi tersebut menghampiri perlengkapan masak tersebut dan menjilatinya sehingga akan menempel air liur yang sangat najis dari babi tersebut. Namun sekali lagi kami terkena sial, perlengkapan dan sampah tersebut berada tidak jauh dari bebi tersebut. Jika saya perkirakan waktu itu jaraknya kurang lebih hanya 15 meter. Namun serasa tidak memiliki pilihan lain, saya pun memberanikan diri untuk mengambilnya. Perlahan namun pasti saya mendekat dan berhasil mengambil barang-barang tersebut. Kemudian saya memiliki inisiatif untuk menggantungkan plastik sampah tersebut di suatu pohon yang tidak jauh dari tempat saya berada dan babi itu tentunya. Saya menggantungkan plastik sampah tersebut dengan keadaan menggantung rendah di pohon tersebut dan berharap dapat melihat babi tersebut berusaha mengambil kantung sampah tersebut nantinya. Setelah berhasil, saya kembali kearah Danu dan melihatnya sedari tadi hanya terbengong melihat besarnya babi dan apa yang sedang saya kerjakan. Ketika itu saya hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk menyelesaikan wudhunya. Setelah Danu menyelesaikan wudhu, kami beranjak dari tempat tersebut dan tetap mengawasi babi serta kantung plastik yang menggantung. Benar saja dugaan saya, tidak lama berselang (sekitar 2 menit) babi tersebut menghampiri kantung plastik yang berisi sampah dari bahan makanan tersebut dan berusaha meraihnya. Saat itu saya hanya tersenyum bahkan hampir tertawa melihat tinggkah laku babi hutan yang sangat besar berusaha keras mendapatkan kantung plastik tersebut, kemudian saya membisik didalam hati bahwa saya berhasil mengerjai si babi hutan wkwkwkwk.. tapi saat itu reaksi sahabat saya Danu hanya terheran heran dan terus mengatakan bahwa babi ini memiliki ukuran yang sangat besar. Endah kenapa pada saat itu saya hanya tersenyum-senyum melihat Danu dan si babi hutan kemudian sekali lagi membatin didalam hati bahwa entah kenapa saya sangat bernyali menghadapi babi saat itu.
            Setelah itu kami pun beranjak kembali ke tenda, namun pada saat itu salah seorang penjaga gunung mengatakan bahwa kami harus menggantung semua bahan makanan sekaligus perlengkapan masak setinggi dan sejauh mungkin dari tenda agar kami tidak diganggu oleh babi-babi ini. Belum sempat saya mendirikan shalat, saya dan Danu langsung berinisiatif untuk melakukan saran yang diberikan oleh penjaga Gunung Papandayan. Saat itu ditengah gelap malam dan gerimis yang terus mengguyur Gunung Papandayan, sekitar pukul 21.30 WIB. Saya kemudian memilih pohon yang saya rasa bisa dipanjat pada saat itu karena kondisi yang sangat tidak kondusif saat malam hari dibawah mesranya hujan dan seramnya teror yang dilakukan oleh babi hutan wkkwk. Dengan cepat saya memanjat pohon dan meletakkan semua bahan makanan diatas pohon. Saat itu kami melihat bahwa babi hutan yang tadinya saya kelabui sudah berhasil mengambil kantong plastik yang saya gantungkan rendah di suatu pohon. Meskipun licin, saya berhasil memanjat pohon dan berhasil turun kembali meski saya sempat kesal pada saat itu karena Dan terlalu takut dan beberapa kali senter yang harusnya diarahkan ke arah saya untuk memanjat pohon malah digunakan untuk menyoroti babi yang sedang asik menyantap hidagannnya. Namun saya maklumi karena saya tahu persis ketakutan yang tergambar di wajah sahabat saya Danu. Setelah semua diras cukup aman saya dan Danu kembali ke kemah dan langsung mendirikan shalat.
            Saat itu malam-malam kami dipenuhi dengan teror. Saya masih ingat betul ketika itu sekitar pukul 22.20 WIB babi-babi hutan itu kembali kearea tenda kami dan mengendus-ngendus. Alhasil saat itu salah seorang penghuni tenda yang berada paling dekat dengan tenda berteriak babi.. babiiii... kami pun sangat terkejut dan ternyata tenda tetangga kami berhasil di jebol oleh salah satu babi hutan tersebut. Melihat paniknya mereka, kami hanya tertawa  tertahan karena kami juga tidak bisa melakukan apa-apa di saat kondisi yang sangat gelap juga gerismis yang masih saja turun di area perkemahan kami. Ketakutan mereka dan teriakan mereka malah menjadi guyonan serta kepanikan bagi penghuni-penghuni tenda lain. Namun pada saat itu, kami mengetahui intensitas babi tersebut ke arah tenda kami berkurang karena kami benar-benar tidak memiliki bahan makanan lagi ditenda. Semuanya telah kami gantung rapi di salah satu pohon di Gunung Papandayan. Namun saat itu sekitar pukul 23.00 WIB teman saya di tenda yang lain sedang menikmati beberapa makanan. Alhasil babi-babi tersebut meneror tenda mereka. Saya pun dengan sigap mencoba mengusir babi-babi tersebut dan membantu teman saya mengevakuasi semua bahan makanan yang tersia dan menggantungnya di pohon. Ini adalah salah satu momen menarik saya, dimana pada saat itu hampir ditengah malam untuk pertama kalinya saya memanjat pohon yan cukup tinggi dan licin karena terguyur hujan terus-menerus serta gelap dan dinginya keadaan saat itu. Namun saya berhasil mengamankan bahan makanan dengan selamat. Setelah itu saya kembali dan beristirahat ditenda.
            Malam semakin  mencekam, belum sejam saya tertidur sekitar pukul 00.05 WIB beberapa teman saya Kays, Hazmy, dan Surya berteriak sangat keras dan membangunkan seisi tenda kami.hal tersebut juga mengundang empat orang penjaga gunung untuk datang melihat apa yang terjadi di tenda mereka. Babiii.. babiii... ada babiii mereka lagi-lagi berteriak. Ternyata tenda mereka menjadi korban selanjutnya oleh sang babi hutan. Lagi-lagi kami hanya bisa tertawa lepas ditenda karena kami tidak bisa membantu mereka ditengah gelap dan dinginnya Gunung Papandayan yang saat itu terus di guyur hujan. Kami hanya mendengar keributan penjaga Gunung untuk mengsusir para bai-babi tersebut. Waktu itu saya dan teman-teman di dalam tenda sepakat untuk meneruskan istirahat namun memilih dua orang diantara kami secara bergantian untuk berjaga. Maka malam itu pun Danu juga Yoga menjadi orang yang pertama kali tidak tidur untuk menajaga tenda. Hal ini sudah menjadi kebiasaan untuk para Pandawa untuk Hiroshah di asrama (berjaga pada malam hari) sehingga hal ini tidak terlalu berat untuk kami lakukan. Saya pun beristirahat dan sekitar pukul 01.30 WIB saya pun dibangunkan untuk bergantian melakukan hirosah. Saya melakuaknnya hingga pukul 03.00 WIB. Malam itu kami pun bisa beristirahat secara bergantian sembari sesekali mendengar endusan babi mendekat ke arah tenda kami. Yang kami lakukan pada sat itu hanyalah menyalakan senter dan berteriak perlahan untuk mengusir babi-babi tersebut.
            Pagi pun tiba kami para Pandawa melakukan aktivitas sekitar pukul 05.00 WIB untukmendirikan shalat shubuh dan dilanjutkan untuk menyiapkan bahan makanan. Hingga sekitar pukul 08.00 WIB kami hanya melanjutkan aktivitas dengan beristirahat ditenda karena cuaca yang tidak mendukung untuk kami beraktivitas di luar. Barulah setelah itu kami berbenah untuk merapikan tenda. Pandawa pun meninggalkan Gunung Papandayan Garut sekitar pukul 09.00 WIB. Meskipun cuaca tidak bersahabat kami berhasil turun ke kaki gunung dengan beberapa kali terpaksa berhenti ditengah jalan karena berbagai hambatan seperti cuaca, kelelahan juga foto-foto untuk mengabadikan momen kami di Gunung Papandayan. Pandawa pun sampai di kaki gunung sekitar pukul 13.00 WIB pada hari kamis tangal 9 Februari 2017. Kemudian kami melanjutkan perjalanan di Garut dan membersihkan diri disalah satu masjid di Garut serta tidak lupa mendirikan shalat Zduhur dan Ashar yang sampai saat itu terus kami jamak. Kami pun beranjak dari masjid tersebut sekitar pukul 15.40 WIB dan bersilahturahmi di rumah salah seorang saudara kami Nunuh Nugaraha. Disana kami sangat disambut hangat dengan hidangan makanan dan minuman. Kamipun baru melanjutkan perjalanan pulang sekitar pukul 17.00 WIB dan sampai dengan selamat di Bogor pukul 23.50 WIB.

            Itulah pengalaman saya di Gunung Papandayan bersama 25 Pandawa dan seorang supervisor. Semoga tulisan ini akan selalu megingatkan momen-momen yang pernah kami lewati. Wasssalam..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Plan 1 tahun (Februari 2017-Januari 2018)

Deskripsi singat

Resolusi untuk 2017