Pahit dan Manis Hidupku Kampus
Oleh: Adi Syah
Putra
Sedikit bercerita tentang pengalaman
pahit yang dirasa namun manis dikenang, bukan majas personifikasi namun
begitulah adanya. Kisah yang sengaja aku pilih dan aku ciptakan sendiri
ikimnya, bukan untuk menyiksa diri namun aku memilih itu karena aku telah
membayangkan bahwa kehidupan paska kampus itu tidak mudah. Namun sebelum itu ijinkan
aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Nama lengkapku adalah Adi Syah
Putra, panggil saja Adi. Lahir di Aceh Tengah pada hari selasa, 20 Februari
1996. Aku terlahir sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara dan ditambah lagi
aku adalah anak lelaki satu-satunya di keluargaku. Sungguh enak dan menyenangkan
bukan?? Mungkin akan begitu menyenangkannya aku ketika aku merengek-rengek
manja kepada orantuaku. Namun dengan latar belakangku dikeluarga tersebut
sebagai anak bungsu dan lelaki satu-satunya bukanlah membahagiakanku, justru
menjadi sebuah kekhawatiran yang sangat besar dan mendasar ketika aku tidak
bisa membiasakan diri untuk mandiri. Meskipun hal tersebut sangat
membahagiakanku, namun aku lebih khawatir ketika suatu saat nanti hal tersebut
justru menjadi bumerang bagi diriku karena tidak membiasakan diri untuk MANDIRI
MULAI SAAT INI!
Cerita
ini dimulai dengan diterimanya aku sebagai peserta beasiswa Rumah Kepemimpinan.
Sebuah rumah yang sangat menakutkan karena telah melahirkan alumni-alumni yang
luar biasa di berbagai sektor baik publik, privat maupun sektor ketiga. Meskipun
diluar sana teman-temanku memandang beasiswa ini adalah hal yang SANGAT LUAR
BIASA, namun hal tersebut tidak jauh berbeda dengan latar belakangku. Beasiswa
ini sama sekali tidak menyenangkanku, malah menjadi beban yang sangat kuat yang
didasari oleh cita-cita suci Founding
Fathers dan alumni-alumni yang telah dilahirkannya. Telah terbenam dalam
setiap benak orang yang mengetahui beasiswa ini pasti melahirkan orang-orang
yang tak biasa, tetapi orang-orang yang dapat memberikan kontribusi kepada
lingkungan sekitarnya.
Sejenak
aku terdiam dan mulai bermuhasabah diri. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah
seorang pemuda biasa yang teraliri rezeki dari dinginnya kebun kopi di pelosok
Sumatra. Melihat hasil akademik tidak jauh berbeda, hanya sedikit lebih dari
cukup untuk melanjutkan beasiswa. Organisasi?? Itupun biasa-biasa saja. Tak ada
sesuatu hal pun yang lebih dan dapat kuandalkan. Terbesit dalam benakku kata-kata
wirausaha. Sepenggal kata yang sangat asing karena belum pernah aku
berkecimpung disana. Pun demikian dengan mindset
orangtuaku bahwa menjadi pegawai adalah hal yang sangat menjanjikan dan
membuat kita bisa terpandang. Ahhh... sudahlah pikirku. Ini bukanlah suatu peperangan
batin yang harus diperdebatkan. Toh ketika aku bisa membuktikan aku bisa
mandiri dan mencukupi semua kebutuhan disini akan memudahkanku untuk mendapat
lampu hijau atau restu dari orangtua untuk aku berkecimpung disana. Terlebih
niatanku yang sudah lama terpendam bahwa aku ingin MANDIRI! Sudah sangat cukup
selama ini kebutuhanku dipenuhi oleh orangtua. Itulah sebuah proses titik balik
dari perjalananku di kampus. Seseorang yang sebelumnya sangat senang dengan
organisasi dan kepanitian dikampus, menjadi seseorang yang harus berjuang lebih
awal dalam praktek ekonomi.
Dengan
keyakinan yang sangat mantap akupun melangkah percaya diri dalam bidang yang
aku pilih. Secepat mungkin aku mengulas balik teori-teori ekonomi yang aku
dapatkan dikampus yang saat ini kebetulan aku sedang menjalankan studi dibawah
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor. Tak sampai disitu akupun mengulang-ngulang kembali buku-buku ekonomi
yang beberapa kali disarankan oleh murobbi ku untuk dibaca. Sampailah pada
kesimpulan aku harus memulai bisnis secepatnya. Robert T. Kyosaki dengan
bukunya Rich Dad Poor Dad dan The Cashflow Quadrant sungguh sangat
menolongku dalam membuka mata dalam mengelola finansial dan bisnis apa yang
akan saya pilih. Waralaba?? Suatu bisnis yang sangat menarik dalam teori dan
mudah dipraktekkan. Terlebih dengan bisnis tipe ini saya tidak perlu membangun
merek dan dapat memilih produk yang sudah banyak disukai masyarakat. Apalagi
dalam sejarah krisis keuangan yang disebabkan kredit macet di Amerika Serikat
tahun 2008-2009, bisnis ini adalah bisnis yang paling tahan dan presentase
kegagalannya hanyalah 10%. Itulah hal yang paling berharga yang saya dapatkan
didalam buku yang ditulis oleh Robert. T Kyosaki.
Segera
setelah itu akupun berpikir keras untuk menemukan waralaba apa yang cocok yang bisa aku jalankan. Terpikir sebuah
waralaba sederhana disekitar kampus, YOURTEA... sebuah produk yang selalu menjadi minuman yang sangat banyak dikonsumsi oleh
masiswa/i IPB. Namun inspirasi ini saya temukan ketika saya sedang dalam
perjalanan menuju Jakarta untuk meghadiri National Leadership Camp bersama
seluruh teman-teman Rumah Kepemimpinan. Aku pun harus menelan ludah untuk bisa
segera merelisiasikan mimpiku. Lima hari mengikuti acara ini aku masih dibawah
bayang-bayang untuk segera bisa membuka sebuah outlet yourtea. Senin, 8 Agustus 2016 aku pun kembali ke
Bogor setelah mengikuti acara National Leadership Camp. Segara setalah itu aku pu
mencari-cari informasi untuk bisa membuka sebuah outlet Yourtea. Lagi-lagi
untuk kedua kalinya aku harus menelan ludah. Hal ini dikarenakan uang yang
dibutuhkan untuk membuka outlet ini adalah Rp6.000.000,- sedangkan saat itu aku hanya mengantongi uang
sebanyak Rp1.000.000,- itupun aku harus pintar menggunakannya karena harus
digunakan untuk mencukupi kebutuhanku sehari-hari. Saat itu, aku merasa
tulang-tulangku lemas karena tidak memiliki uang yang cukup untuk segera
merealisasikan mimpiku. Namun aku tidak menyerah begitu saja. Spontan aku pun
mulai mengingat teman-temanku yang lebih secara finansial dan mulai memasukkan
nama-namanya kedalam daftar orang yang akan aku pinjami uanganya. Dengan susah
payah berusaha, akhirnya pada hari minggu, 28 Agustus 2016 akupun menggenapi
jumlah uang yang diutuhkan untuk segera merealisasikan mimpiku. Tanpa berpikir
panjang pada Selasa, 30 Agustus 2016 akupun berpamitan kepada teman-teman dan
eksekutif regional Rumah Kepemimpinan dan tanpa berpikir panjang malam itupun
aku berhasil menjadi mitra Yourtea dan merealisasikan mimpiku. Satu hal yang
membuatku sangat senang malam itu adalah aku BERANI MENGAMBIL RESIKO dan
MEMATAHKAN KETAKUTAN selama ini.
Sungguh
tidak mudah dalam perjalanannya. Sangat banyak kepelikan yang aku rasakan.
Seringkali dadaku merasa sesak bahkan sangat sesak seperti dihimpit batu besar
dalam perjuanganku memenuhi kebutuhannku sendiri. Masih teringat jelas dimana bayang-bayang
hutang itu selalu menghantui setiap hariku. Masih sangat jelas dalam ingatan
dimana hari-hariku hanya mengantongi beberapa lembaran rupiah saja dan
terkadang aku tidak tahu esok akan bisa menyantap apa. Seringkali kantongku
tidak penah melebihi Rp15.000,- dan itu terus bertahan sampai lima minggu
lamanya. Sangat jelas dalam ngatan ketika hari pertama berjualan handphone dan
kamera yang dengan susah payah aku membelinya rusak begitu saja. Hari pertama
yang sangat pelik namun sangat manis untuk dikenang, benar-benar sangat manis.
Hari pertama yang terasa seakan saja bumi ini runtuh beserta isinya dan
menghujam dadaku. Alat komunikasi yang sangat aku andalkan saat itu untuk
mengontrol usaha pertamaku, juga kepanitian yang saat itu sedang berjalan dihari
keduanya rusak seketika dan membuat aku kesulitan berkomunikasi. Kamera yang
selama dua tahun aku mengidam-ngidamkan dan sangat membutuhkan perjuangan
membelinya bahkan harganya melebihi dari motor yang selama ini aku gunakan mati
begitu saja ditangan teman baikku. Hari pertama yang sungguh berkesan dimana ketika
aku pulang lututku terasa sangat layu dan hanya bisa berbaring menutup hari
begitu saja dengan tatapan kosong di ruang tamu asrama Rumah Kepemimpinan. Tak
jauh berbeda dengan hari-hariku selama bulan September dan Oktober tahun 2016,
hampir disetiap paginya aku harus memanfaatkan lima belas menit tambahan
waktuku untuk datang dan masuk di ruang kelas. Pagi-pagi yang sangat dingin
dengan buntalan es batu yang hampir setiap hari aku antarkan. Pakaian-pakaian
basah akibat memikul beratnya bongkahan es yang menemani diawal pagiku dan
banyak lagi masa-masa yang sangat sulit aku lewati dalam perjuanganku dalam
mewujudkan sebuah mimpi.
Namun
benar saja, Allah pasti akan mengganjar setiap doa dan usaha. semuanya berbalas
manis dan sangat indah. November 2016, saksi atas semua perjalanan panjangku.
Hutang-hutang yang selama ini aku miliki perlahan-lahan berkurang hingga lunas.
Dompet yang selama ini sangat tipis dan dipenuhi dengan logam-logam mulai berubah
menjadi lembaran-lembaran kertas yang lebih berharga. Handphone baru pun hadir
menemani hari-hariku. Kamera yang sangat aku andalkan kembali menunjukkan
akselerasinya dan dapat lagi melukis indahnya sinar mentari.
Kebutuhan-kebutuhan skunder pun perlahan dapat kupenuhi. Bisnisku pun
berkembang. Besarnya biaya fieldtrip untuk pertama dan terakhir kalinya di
departemen Agribisnis IPB pun dapat kulunasi dan puncaknya saat ini, pada Mei
2017 aku telah mengantongi mahalnya tiket liburanku sebesar Rp3.009.000,- untuk
pulang dan berlibur di kampung halaman tercinta, Aceh. Terlebih penting dari
itu, aku sudah tidak membebani orangtuaku lagi.
Sebuah
cerita pahit yang berujung manis. Aku hanya percaya selama aku berusaha dan
menggengam erat mimpi-mimpiku pasti akan ada jalan yang akan mengantarkannya
kesana. Sebuah kisah yang akan menjadi motivasiku kelak dimasa depan. Semoga
kisah sederhana ini juga dapat menjadi motivasi bagi setiap orang yang
membacanya dan selalu percayalah “sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan..”(Q.S Al-Insyirah:6)
Ditulis di Bogor, 20 Mei 2017
(Dalam Momentum memperingati hari Kebangkitan Nasional)
Adi
Syah Putra
Komentar
Posting Komentar